Thursday, September 29, 2011

~Hati Kita Keras. Kenapa?

"...berhati-hati dengan HATI!..."(peringatan  dari seorang sahabat)
   
Ada apa dengan HATI?

   Hati adalah sumber ilham dan pertimbangan, tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan sikap degil, ketenangan dan kebimbangan. Hati juga sumber kebahagiaan jika kita mampu membersihkannya namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika kita gemar menodainya. Aktiviti yang dilakukan sering berpunca daripada lurus atau bengkoknya hati.

Ketahuilah!...dengan mengingati ALLAH, HATI menjadi tenang...subhanallah!


Abu Hurairah r.a. berkata, “Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentera. Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tenteranya..Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tenteranya”.

Hati yang keras mempunyai tanda-tanda yang boleh dikenali, di antara yang terpenting adalah seperti berikut:

1. Malas melakukan ketaatan dan amal kebajikan
Terutama malas untuk melaksanakan ibadah, malah mungkin memandang ringan. Misalnya tidak serius dalam menunaikan solat, atau berasa berat dan enggan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifatkan kaum munafikin dalam firman-Nya yang bermaksud, “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (Surah At-Taubah, ayat 54)

2. Tidak berasa gerun dengan ayat al-Quran
Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, hatinya tidak terpengaruh sama sekali, tidak mahu khusyuk atau tunduk, dan juga lalai daripada membaca al-Quran serta mendengarkannya. Bahkan enggan dan berpaling daripadanya. Sedangkan Allah S.W.T memberi ingatan yang ertinya, “Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman Ku.” (Surah Al-Qaf, ayat 45)

3. Berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat
Segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata-mata. Segala sesuatu ditimbang dari segi keperluan dunia. Cinta, benci dan hubungan sesama manusia hanya untuk urusan dunia sahaja. Penghujungnya jadilah dia seorang yang dengki, ego dan individulistik, bakhil serta tamak terhadap dunia.

4. Kurang mengagungkan Allah
Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman menjadi lemah, tidak marah ketika larangan Allah diperlekehkan orang lain, tidak mengamal yang makruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa. 

Jadi, sama-sama kita bedah dan koreksi hati kita masing-masing. Ke manakah hala tuju hati kita di saat ini?...Allah...Allah...Allah...

wallahua'lam.

Sunday, September 25, 2011

~Cinta Yang Tidak Pernah Meminta

  Kata pujangga, cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi fikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta.

 Namun hati-hati juga dengan cinta, kerana cinta juga dapat membuat orang yang sihat menjadi sakit, orang yang gemuk menjadi kurus, orang yang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada ALLAH. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta ALLAH, cinta yang begitu agung lagi murni.


 Cinta ALLAH cinta yang tidak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-NYA, dan manisnya bercinta dengan ALLAH, tidak ada lagi keluhan, tidak ada lagi tubuh lesu, tidak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cubaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-NYA jua.

 Tidak jarang orang mengaku mencintai ALLAH, dan sering orang mengatakan mencintai Rasulullah s.a.w, tetapi bagaimana mungkin semua itu diterima ALLAH tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta ALLAH, tetapi dalam fikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita atau lelaki yang dicintai. Tidak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-NYA.

 Di saat ALLAH menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat ALLAH, sering orang tidak bisa menerimanya. Di saat ALLAH memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tidak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang isterinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tidak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, ramai orang yang hijrah ke rumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari ALLAH, kerana ALLAH ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-hamba-NYA kepada sang penakluk jiwa, ALLAHU RABBI. ALLAH menginginkan bukti, namun sering orang pun tidak berdaya membuktikannya, justeru sering berguguran cintanya kepada ALLAH, disaat ALLAH menarik secuil nikmat yang dicurahkan-NYA.

 Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap KHALIQnya. Padahal semuanya sudah diatur oleh ALLAH, rezeki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari ALLAH, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup di dunia. Bersungguh-sungguh mencintai ALLAH, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini? Jika cinta kepada selain ALLAH, melebihi cinta pada ALLAH, merupakan salah satu penyebab doa tidak terijabah.

Bagaimana mungkin ALLAH mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih mengadah tangan kepada ALLAH di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin doa seorang gadis ingin mendapatkan seorang lelaki soleh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum solehah.

Bagaimana mungkin doa seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga.

Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang soleh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tidak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan keperibadian diri belum bisa menjadi contoh teladan.

Banyak orang mengaku cinta kepada ALLAH dan ALLAH hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang KHALIQ, kerana disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman.

Dengan kesusahan, ALLAH hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sedar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-NYA. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita kepada ALLAH, agar kita terhindar dari cinta palsu.


Dan ALLAH tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-NYA yang betul-betul berkorban demi ALLAH  semata. Untuk membuktikan cinta kita kepada-NYA, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:

1) Iman yang kuat.
2) Ikhlas dalam beramal.
3) Mempersiapkan kebaikan internal dan eksternal. Kebaikan internal iaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunnah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-quran dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada ALLAH, dengan keistiqomahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian Insya-ALLAH kita akan menggapai cinta dan keredhaan-NYA.

wallahua'lam.
~CINTA ALLAH: ITULAH ASAS KEBAHAGIAAN DALAM HIDUP...


Tuesday, September 13, 2011

~Hubungan antara Ulama' dan Umara'.

Berikut adalah kertas kerja yang dibentangkan oleh Prof. Dato’ Dr. Mahmood Zuhdi Haji Abdul Majid pada Seminar Tajdid, Pemikiran Islam di Bukit Tinggi, Indonesia.


HUBUNGAN ANTARA ULAMA DAN UMARA DALAM MEMBANGUN UMMAH: SOROTAN PANDANGAN AHL AL-SUNNAH WA AL-JAMAAH


Oleh:

Prof. Dato’ Dr. Mahmood Zuhdi Haji Abdul Majid


Pendahuluan:

Secara umum nya Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah bukanlah suatu kumpulan yang rasmi. Sebalik nya mereka adalah golongan majoriti umat Islam yang tidak menggelar diri mereka sendiri dengan apa-apa nama khas. Dengan kata lain, mereka adalah golongan sederhana yang menjadi tulang belakang ummah sewaktu terdapat berbagai golongan ekstremis menonjolkan diri masing-masing dengan nama dan jolokan yang tersendiri, seperti Syi’ah, Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah dan sebagai nya.

Di bidang ilmu, golongan sederhana seperti ini dikenali sebagai Jumhur Ulama. Maksud nya majoriti para ulama yang tidak menggunakan nama atau gelaran tertentu sepertimana yang disebut di atas. Sebalik nya merupakan kesinambungan kepada keilmuan para sahabat dan tabi’in yang diwarisi dari saman ke zaman dalam sifat yang cukup konservatif.(Abu Zahrah)

Dalam realiti umat Islam pada hari ini, Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah ini merangkumi majoriti besar umat Islam. Mereka mendukung pandangan klasik Islam yang diwarisi dari zaman ke zaman.. Mungkin terdapat perbezaan pendapat secara dalaman di antara mereka sendiri. Namun perbezaan pendapat ini cukup minimum sekali dan dalam ruang yang dibenarkan oleh Islam. Apa yang terkeluar daripada mereka hanyalah golongan serpihan yang tidak komited dengan pandangan klasik dan cuba membawa jalan sendiri yang jelas sekali janggal kelihatannya.

Mengingatkan bahawa perkara yang memisahkan di antara berbagai golongan ekstremis dan majoriti besar umat Islam yang dikenali sebagai Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah ini ialah akidah dan politik (Abu Zahrah), persoalan tentang kepimpinan ummah, baik di bidang politik dan pemerintahan, atau di bidang keilmuan dan intelektual sangat penting sekali. Maksud nya ia boleh memberi gambaran yang jelas sama ada sesuatu sikap atau pandangan itu masih berada dalam lingkungan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah atau sebalik nya.

Begitu pun, soal perbezaan di antara pandangan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah dan apa saja golongan serpihan yang ada pada hari ini tidak sekali-kali menjadi tujuan makalah ini. Sebalik nya makalah ini lebih berminat untuk menghuraikan tentang keperluan kerjasama yang erat di antara para pemimpin ilmu dan intelektual (Ulama) dan para pemimpin politik dan pemerintahan (Umara) bagi tujuan pembangunan ummah berdasarkan pandangan majoriti ulama Islam yang dikenali sebagai Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah itu.

Antara Ulama dan Umara:

Bagaimanapun, sebelum persoalan tentang hubungan di antara Ulama dan Umara ini disentuh, baik sekali diperjelaskan satu istilah yang nampak nya berkaitan rapat, iaitulah “Orang Agama”. Istilah ini sebenar nya tidak mempunyai asas dalam tradisi Islam sebagaimana yang diwarisi oleh Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah. Sebalik nya ia merupakan istilah asing yang menyerap masuk melalui pengaruh orientalisme. Akar umbi nya ialah agama Kristian, dan telah mencapai tahap kesuburan yang tinggi dalam pergolakan di antara gereja dan masyarakat Eropah pada suatu masa lampau.(al-Badri)

Hakikat ini memperjelaskan bahawa yang dimaksudkan dengan “Ulama” dalam konteks perbicaraan ini bukanlah maksud nya “Orang Agama” dalam konsep yang dikembangkan oleh realiti agama Kristian di barat itu. Kerana di barat ia lahir sebagai pengubat luka kepada kekecewaan gereja atas kegagalannya melaksanakan tugas pemerintahan yang pernah direbut nya dari tangan para pemerintah atas dasar untuk merealisasikan keutamaan spiritual berbanding material. Bagi tujuan tersebut mereka mempopularkan kata-kata warisan yang berbunyi “Berikan apa yang dipunyai oleh raja kepada raja, dan apa yang dipunyai oleh tuhan kepada tuhan”.

Maksud nya istilah “Orang Agama” memberi erti pemisahan di antara urusan agama dengan urusan negara. Agama ada orang nya sendiri dan negara juga ada orang nya sendiri. Segala upacara keagamaan dikuasai dan dikelolakan oleh orang agama, sementara segala acara pemerintahan dikuasai dan dikelolakan oleh orang politik dan pemerintahan. (al-Badri)

Sedangkan dalam Islam tidak ada orang agama dan orang negara mengikut istilah berkenaan. Kerana pemisahan di antara agama dan negara tidak berlaku. Bagi Islam, tidak ada yang disebut sebagai kuasa agama yang terpisah daripada pemerintahan dunia dan sebaliknya pula tidak ada kuasa pemerintahan yang terpisah daripada agama.

Apa yang ada dalam Islam ialah “Ulama”. Penamaan ini tidak berdasarkan aspek kuasa, tetapi sebalik nya keilmuan. Maksud nya kepimpinan ilmu. Samalah juga dengan “Umara”. Penamaannya juga tidak berdasarkan kepada pembahagian kuasa. Sebalik nya ia memberi erti kepimpinan dalam pemerintahan. Kedua-dua nya bersatu di bawah agama “al-Din”.



Kedudukan Para Ulama:

Tanpa ulama semua orang akan menjadi jahil dan akan bertindak dalam hidup mereka mengikut hawa nafsu semata-mata. Kerana itu para ulama merupakan anugerah Allah untuk umat manusia bagi membimbing mereka ke jalan yang benar. Baginda Rasulullah s.a.w. sendiri pernah menyifatkan para ulama sama seperti bintang-bintang di langit. Sabda baginda, maksud nya:
“Bandingannya para ulama di bumi ini samalah seperti bintang-bintang di langit. Ia dijadikan pedoman dalam kegelapan di laut dan di darat. Kalau bintang-bintang itu pudar mereka yang berpandukannya nyaris sesat” (Riwayat Imam Ahmad)

Dalam sebuah hadis lain Baginda Rasulullah bersabda, maksud nya:

“Semua yang ada di bumi dan di langit, termasuk sekali ikan-ikan di dalam air beristighfar untuk para ulama. Bahawa kelebihan orang alim berbanding ahli ibadat sama seperti kelebihan bulan berbanding cakerawala yang lain. Bahawa para ulama itu adalah pewaris para Nabi” (Riwayat Abu Daud dan al-Termidzi)

Dalam satu hadis lain lagi Baginda s.a.w. bersabda, maksud nya:

“ Kelebihan seorang ahli ilmu berbanding seorang ahli ibadat sama seperti kelebihan saya berbanding orang yang lebih rendah di kalangan kamu. Sesungguh nya Allah, para malaikat dan para penghuni langit dan bumi, termasuk semut di dalam lubang dan ikan di dalam air akan berselawat ke atas orang yang mengajar tentang kebaikan kepada orang”(Riwayat al-Termidzi)

Semua pujian di atas bertujuan untuk menyatakan bagaimana besar nya peranan para ulama dalam menjamin kesejahteraan Islam dan umat nya di bumi ini. Mereka merupakan pemegang amanah yang sentiasa jujur dan ikhlas kepada tugas mereka sebagai pewaris para Nabi. Dalam melaksanakan semua tugas ini mereka tidak akan tunduk kecuali kepada kebenaran.

Kedudukan Para Umara:

Sementara Umara pula adalah keperluan yang pasti bagi ummah. Tanpa nya masyarakat menjadi kacau. Malah Syariah tidak akan dapat dilaksanakan. Sehubungan dengan ini Baginda Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, maksud nya:

“Pemimpin itu adalah perisai. Orang akan berperang di belakang nya dan berselindung di sebalik nya”( Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kerana itulah juga Allah sendiri menjanjikan kepada mereka ini tempat yang tinggi dan mulia di hari akhirat nanti. Sabda Rasulullah s.a.w. maksud nya:

“Manusia yang paling dikasihi Allah dan diberi tempat yang terdekat sekali dengan Nya pada hari kiamat nanti ialah pemerintah yang adil. Sementara manusia yang paling dibenci Allah dan diletakkan di tempat yang paling jauh sekali dengan Nya pada hari kiamat nanti ialah pemerintah yang zalim” (Riwayat al-Termidzi)

Dalam sebuah hadis lain Rasulullah s.a.w. bersabda, maksud nya:

“Ada tujuh golongan manusia yang akan diberi berteduh oleh Allah di bawah bayang Nya pada hari yang tidak ada bayang kecuali bayang Nya sahaja(salah satu daripada nya ialah) pemerintah yang adil” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)


Sama dengan para Ulama, para Umara juga diberi kedudukan yang begitu tinggi dan penting sekali oleh Islam. Semua nya kerana peranan golongan ini dalam menjamin kemajuan Islam dan ummah nya di dunia ini.

Memandangkan kedudukan yang penting ini, dan untuk menjamin ia nya dapat dicapai oleh para Umara, Khalifah Umar Ibn al-Khattab pernah memberi nasihat kepada gabenornya Abu Musa al-Asy’ari. Kata beliau, maksud nya:

“Penguasa yang paling berbahagia ialah mereka yang rakyat nya merasa bahagia dengan nya. Sementara penguasa yang paling celaka pula ialah mereka yang rakyat nya merasa celaka dengan nya. Ingat, jangan hidup mewah. Kerana para pegawai kamu akan meniru kamu. Bandingan kamu sama seperti binatang ternakan. Apabila berada di padang ragut yang menghijau ia akan makan banyak sehingga menjadi gemuk. Kegemukannya itu akan menjadi sebab kepada kebinasaannya. Kerana ia akan disembelih untuk dimakan” (Abu Yusuf)

Dalam satu pekeliling yang diedarkan oleh beliau kepada semua gabenor nya Umar menyebut, maksud nya:

“... Sesungguh nya saya menghantar kamu sebagai para pemerintah, bukan sebagai para penindas. Kamu diutus untuk menjadi pembimbing yang diikuti. Kerana itu tunaikan semua hak orang Islam. Jangan kamu pukul mereka, nanti mereka akan rasa terhina. Sebalik nya pula jangan kamu puji mereka, nanti mereka akan terpedaya. Jangan kamu menutup pintu terhadap mereka, nanti yang kuat akan menindas yang lemah di kalangan mereka sendiri. Jangan kamu mengutamakan diri kamu berbanding mereka, nanti kamu akan menzalimi mereka pula” (Abu Yusuf)

Dalam nada yang hampir serupa Sayedina Ali r.a. memberi nasihat kepada gabenor nya dengan berkata, maksud nya:

“Jadikan yang paling kamu sukai ialah kebenaran yang paling tepat, keadilan yang paling berakar umbi dan kerelaan rakyat yang paling komprehensif” (Ali,r.a)


Faktor Kebaikan:

Atas sifat- sifat yang disebut tadilah Ulama dan Umara disifatkan secara bersama sebagai faktor kebaikan ummah. Sehubungan dengan ini Rasulullah s.a.w. bersabda, maksud nya:

“Ada dua golongan manusia, bila mereka baik orang menjadi baik, bila mereka rosak orang menjadi rosak: Ulama dan Umara” (Riwayat Abu Na’im dalam al-Hulyah)

Sebalik nya kalau Ulama dan Umara gagal bersikap baik sepertimana yang dihuraikan di atas ummah akan jadi mangsa. Kerana itulah Rasulullah selalu mengingatkan agar keadaan seperti itu dapat dielakkan supaya tidak berlaku. Dalam sebuah hadis Baginda Rasulullahlah s.a.w. bersabda, maksud nya :

“Akan terdapat para pemerintah yang fasik dan zalim. Maka sesiapa yang mengeyakan pendustaan mereka itu dan menolong mereka melakukan kezaliman dia bukanlah dari kalangan ku”(Riwayat Ahmad, al-Nasa’i dan al-Termidzi)

Dalam satu hadis lain Baginda s.a.w. bersabda, maksud nya:

“Saya tidak bimbangkan umat saya daripada orang mukmin atau orang kafir. Kerana orang mukmin dikawal oleh iman nya dan orang kafir diperjelaskan oleh kekufuran nya. Apa yang saya bimbangkan ialah orang munafik yang berlidah lembut. Dia akan berkata tentang apa yang kamu tahu dan akan melakukan apa yang kamu tidak suka” (Riwayat al-Tabarani dan al-Bazzaz)

Dalam sebuah hadis yang lain Rasulullah s.a.w. bersabda, maksud nya:

“Bila Rasulullah s.a.w. ditanya, apakah perbuatan yang paling baik, jawab Baginda, “menjauhi perkara haram dan menjadikan lidah sentiasa basah dengan menyebut Tuhan.” Apabila Baginda ditanya tentang kawan yang paling baik, Baginda bersabda: “Kawan yang sentiasa menolong kamu apabila kamu perlu dan memperingatkan kamu apabila kamu lupa” Apabila ditanya tentang manusia paling jahat Baginda s.a.w. bersabda “ Para Ulama , apabila mereka rosak” (Al-Jahiz)


Bagi Imam al-Ghazzali pula, kerosakan para Umara berlaku kerana kerosakan para Ulama. Kata beliau, maksud nya:

“ Adalah menjadi kebiasaan bagi para ulama untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar tanpa mengambil kira sangat tentang kekejaman pemerintah. Mereka sangat percaya bahawa Allah akan menjaga mereka. Mereka rela menjadi syahid kalau sudah ditakdirkan begitu oleh Allah. Oleh kerana mereka itu ikhlas hati orang mudah menjadi lembut dan terbuka untuk menerima nasihat nya. Tetapi sekarang, lidah para ulama telah menjadi kelu kerana diikat oleh kepentingan. Kalau pun mereka bercakap, mereka tidak akan berjaya. Kerana pembawaan hidup mereka sendiri berbeza dengan apa yang dicakapkan. Kalau sekiranya mereka ini bersikap jujur dan bertujuan semata-mata untuk menegakkan kebenaran ilmu. Sesungguhnya rakyat rosak kerana pemerintah, dan pemerintah rosak kerana Ulama. Sementara Ulama pula rosak kerana tamakkan harta dan pangkat. Maka sesiapa yang dikuasai oleh kecintaan kepada dunia, dia tidak akan mampu memberi nasihat walaupun kepada orang bawahan, apa lagi kepada pemerintah dan pembesar” (al-Ghazali)


Hubungan Baik:

Para Ulama yang Soleh akan sentiasa berusaha untuk memberi nasihat kepada siapa saja. Kerana nasihat merupakan asas kepada agama. Dalam ayat al-Quran Allah menggesa supaya ada golongan yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Tentu sekali nasihat sebahagian daripada nya. Malah Baginda Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan bahawa “Agama itu nasihat”.

Nasihat kepada para pemerintah merupakan agenda paling utama. Kerana ia boleh memberi faedah kepada pemerintah itu sendiri dan kepada rakyat di bawah pemerintahannya. Kerana itulah sebahagian besar para ulama salaf berpendapat memberi nasihat kepada para pemerintah itu lebih baik daripada menderhaka dan memberontak terhadap mereka.

Kata al-Imam al-Hasan al-Basri tentang pemerintah, maksud nya:

“Merekalah yang melakukan urusan kita, sama ada untuk bersembahyang Jumaat, membahagi harta fai’, dan mengawal sempadan serta perbatasan negara. Demi Allah agama tidak akan stabil tanpa sokongan mereka, walau pun mereka itu zalim. Demi Allah kebaikan mereka lebih besar daripada kejahatan mereka” (Abu Zahrah: Malik)

Apabila Imam Malik ditanya tentang hukum memusuhi orang yang memberontak terhadap kerajaan, kata beliau “Harus, kalau kerajaan itu sama seperti Umar Ibn Abdul Aziz”.Apabila ditanya, kalau pemerintah itu tidak seperti Umar Abd.Aziz? Jawab Imam Malik: Biarkan Allah sendiri yang bertindak terhadap kedua-duanya golongan itu.: (Ahmad Amin)

Pandangan yang serupa diberi oleh oleh para Ulama lain termasuk Sa`id Ibn al-Musayyib dan al-Imam Ahmad Ibn Hanbal. Bagi mereka, apa yang perlu dilakukan terhadap pemerintah ialah memberi nasihat secara baik (al-Badri).

Dalam penulisan klasik Islam terdapat banyak contoh nasihat yang telah diberikan oleh para Ulama kepada Para Umara itu tadi. Antara nya ialah kata-kata nasihat yang ditulis oleh al-Imam Malik kepada Khalifah Harun al-Rasyid dalam sepucuk surat nya yang masyhur itu. Dalam surat yang panjang itu,. al-Imam Malik antara lain menulis, maksud nya:

“Saya tulis surat ini untuk anda bagi tujuan berkongsi kebijaksanaan dan memberi nasihat. Fahamilah ia dengan akal anda , ulangilah penatapannya dengan mata anda dan dengarilah bacaannya dengan telinga anda. Kemudian sematkan di hati anda, simpankan dalam ingatan anda dan jangan biarkan ia hilang. Kerana di dalam nya ada kebaikan di dunia dan ada pahala dari Allah di akhirat nanti.

Fikirkan bagaimana anda nanti nya akan menghadapi mati dan segala keburukan yang akan menimpa anda. Begitu juga tentang apa yang anda bakal hadapi selepas mati nanti, termasuk pembentangan di hadapan Allah dan kemudiannya hisab serta kehidupan yang kekal selepas itu dan segala mala petaka yang disediakan oleh Allah.....

Jangan anda percaya dalam apa pun juga urusan anda kepada siapa saja yang tidak takutkan Allah. Kerana saya ada menerima riwayat bahawa Umar Ibn al-Khattab berkata “Berundinglah dalam urusan kamu dengan orang yang takutkan Allah”. Selain itu, hati-hatilah terhadap mereka yang rapat dengan anda yang mempunyai tujuan jahat. Kerana saya ada menerima riwayat bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda “ Setiap nabi dan khalifah sentiasa dikelilingi oleh dua kalangan yang rapat. Kalangan pertama selalu menyuruh dia melakukan makruf dan melarang mungkar. Sementara kalangan kedua pula ada-ada saja kejahatan yang disebabkan oleh nya”

Jangan anda berpakaian terlalu mewah. Kerana Allah tidak sukakannya. Saya mendapat riwayat bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda ” Sesiapa yang mengheret pakaiannya dengan rasa bangga Allah tidak akan melihat kepada nya pada hari kiamat.

Taatlah kepada Allah dalam menentang maksiat yang dilakukan oleh manusia, dan jangan taati manusia dalam menderhaka kepada Allah. Kerana saya ada menerima riwayat bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda ”Tiada kepatuhan terhadap makhluk untuk menderhaka kepada Allah”. (Abu Zahrah)

Al-Imam Abu Yusuf juga pernah menulis surat kepada Khalifah Harun al-Rasyid memberi nasihat kepada nya. Antara lain beliau menyebut:

”Wahai Amir al-Mukminin, Allah telah menugaskan kepada anda satu tugasan besar yang pahalanya sangat besar dan seksa nya juga sangat dahsyat. Allah telah menugaskan kepada anda urusan umat ini. Anda telah mengambil tanggungjawabnya memimpin umat ini sebagai satu amanah. Anda perlu ingat bahawa binaan yang tidak diasaskan atas ketakwaan akan runtuh menimpa pengasas nya sendiri dan semua orang yang membantu nya. Kerana itu anda jangan sia-siakan tugasan ini dan bekerjalah dengan izin Allah....

Tunaikan segala hak yang diamanahkan itu dan jangan cuai daripada melakukannya walau pun sesaat. Kerana pemimpin yang paling bahagia di hari akhirat nanti ialah pemimpin yang disenangi oleh rakyat nya. Hati-hatilah jangan bertindak berasaskan hawa nafsu atau dengan perasaan marah. Apabila anda berhadapan dengan dua alternatif, satu nya memberi keuntungan akhirat dan satu lagi memberi keuntungan dunia, maka anda perlu memilih keuntungan akhirat. Kerana akhirat akan kekal selama-lama nya, sedangkan dunia akan binasa. Takutilah Allah dengan cukup hati-hati. Bersikap adillah terhadap semua orang, yang dekat dan yang jauh. Dalam melaksanakan perintah Allah, jangan takut apa saja...(Abu Yusuf)

Sebalik nya para pemerintah sentiasa bersedia untuk mendengar nasihat daripada Ulama dan melaksanakannya. Khalifah Harun al-Rasyid menerima baik kedua-dua nasihat berkenaan dengan diiringi ucapan terima kasih. Atas semangat yang samalah juga Khalifah Abu Ja’far al-Mansur meminta al-Imam Malik menulis sebuah kod undang-undang bagi digunakan di seluruh mahkamah pada waktu itu. Untuk itu al-Imam Malik menulis Kitab al-Muwatta’ yang masyhur sampai sekarang itu. (Abu Zahrah)Begitulah juga Khalifah Harun al-Rasyid meminta Abu Yusuf menulis tentang dasar kewangan negara yang kemudiannya melahirkan Kitab al-Kharaj yang masyhur itu.(Abu Yusuf)

Pembangunan Ummah:

Tentu nya antara objektif di sebalik hubungan kerjasama di antara Ulama dan Umara ini ialah pembangunan Ummah. Itulah antara pengertian yang terdapat dalam hadis Rasulullah s.a.w. yang menyebut bahawa Ulama dan Umara itu dua jenis manusia yang boleh menentukan baik buruk nya masyarakat dan Ummah. Kerana salah satu daripada aspek dalam kebaikan ummah ia lah pembangunan nya.

Salah satu aspek pembangunan penting bagi ummah ialah pengukuhan kepimpinan di kalangan ummah itu sendiri. Bagi Ibn Taimiyah, ia adalah kewajipan keagamaan yang perlu dilaksanakan. Kata beliau, tiada kepentingan yang boleh dicapai kecuali ada permuafakatan di antara satu sama lain. Sedangkan permuafakatan memerlukan kepimpinan. Benarlah kata orang bahawa asas kepada pembangunan ekonomi itu ialah kestabilan politik.

Memperkukuhkan pandangan beliau itu Ibn Taimiyah menyebut hadis- hadis Rasulullah yang menyebut tentang keperluan melantik pemimpin bila saja berlaku perkumpulan di antara orang Islam, dalam musafir misal nya. Apalagi dalam politik, sosial dan ekonomi yang menjadi asas yang begitu ketara dalam pembangunan.(Ibn Taimiyah)

Dalam sejarah Islam yang panjang itu, pembangunan Ummah menjadi begitu pesat sekali di zaman pemerintahan Abbasiah. Kerana kestabilan politik boleh dikatakan telah tercapai sepenuh nya, baik pada peringkat dalaman mahu pun pada peringkat luaran. Begitulah juga di dunia zaman moden ini. Mana saja negara yang politik nya bergolak tiada kemajuan yang dapat dijayakan. Sebalik nya pula apabila politik menjadi stabil, kemajuan dengan senang saja dapat dijayakan.

Dalam realiti Indonesia dan Malaysia pun sama. Kenyataan banyak menunjukkan bahawa kemajuan menjadi pesat pada waktu kepimpinan politik menjadi stabil. Sebalik nya, dalam keadaan politik goyah tiada kemajuan yang boleh dicapai dan pembangunan ummah menjadi begitu lembap sekali.

Penutup:

Apa pun juga, semua buah fikiran yang diperkatakan dalam kertas ini lumrah belaka. Apa yang baru hanyalah peringatan dan pengungkapan kembali tentang nilai hidup yang sangat murni ini.

Penekanan terhadap penyuburan aliran dan amalan Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah sebenar nya boleh membantu ke arah mencapai apa yang dicita-citakan itu. Kerana kesederhanaan nya boleh mengurangkan pertentangan antara satu sama lain, baik di antara Ulama dan Umara mahupun di antara Ulama dan Ulama sendiri.

Cara nya ialah dengan melihat Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah sebagai aliran utama di kalangan Ummah yang diwarisi dari zaman ke zaman. Sebagai aliran utama ia perlu diperluaskan tafsirannya. Para pemimpin nya perlu bijak memasukkan ke dalam aliran itu apa saja golongan yang berkemungkinan. Malah juga perlu bijak agar tiada siapa yang menyatakan dia dari kalangan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah di singkirkan.

Sesungguh nya pada konsep “’Am al-Jama’ah” yang menjadi titik penutup kepada pergolakan politik yang sangat membimbangkan pada zaman awal Islam itu ada pengertian yang mendalam terhadap pembangunan Ummah pada waktu itu. Sedangkan Mu’awiyah tidaklah seorang yang terlalu ideal berbanding dengan tokoh lain. Benarlah sabda Rasulullah yang bermaksud “Bahawa tangan Allah itu ada bersama Jama’ah”


Wallahu a’lam.



 (Sumber: Yayasan Dakwah Islamiyah Malaysia)

Thursday, September 8, 2011

~Bersyukurlah...kerana dirimu insan terpilih...

Aduhai hati yang selalu gundah gulana.. Mengapa perlu difikirkan kehidupan duniawimu. Sedangkan dunia itu sering menipumu. Bukankah kehidupan ini penuh dengan majazi? Tipu daya di sana sini? Maka, hendaklah engkau susun langkahmu penuh hati-hati, Ingatlah, syaitan itu sentiasa tidak mahu mengaku kalah dan tidak pernah putus asa. Setiap saat masanya adalah berharga. Tidak dibiar kosong tanpa menyesatkan adam dan hawa. Lantas, bagaimana engkau masih lagi memikirkan hal duniamu?

Perbanyakkanlah berfikir, renung penuh bererti.. Bagaimana bakal kehidupanmu sewaktu mengadap Tuhan Rabbul ’Izzati..? Selamatkah dirimu di hari yang tiada pelindung melainkanNya? Akan beratkah amal yang akan engkau bawa?

Justeru, renungkanlah duhai diri yang lemah. Agar kehidupanmu di dunia sentiasa waspada..

Semoga, akan hadir dalam hatimu jiwa yang sensitif dengan dosa. Merasakan dosa itu besar sekalipun pada kesilapan sekecil zarah. Ketahuilah.. itulah antara ciri-ciri mereka yang aqrab dengan tuhanNya. Yang punya Ihsan dalam hatinya. Merasa kehadiran Allah dalam setiap sentuhan masa yang ada.. sekalipun mata tidak melihat, tetapi hati menyakini Allah Maha Mlihat.

Untuk apa perlu dirisaukan, aduhai hati yang rawan.. sebuah kehilangan itu hanya secebis dugaan.. dari Tuhan sekalian alam.. Hilang bukan bererti tamatnya sebuah kehidupan, tetapi dengan kehilangan itulah darjatmu ditinggikan. Hairan? Mengapa perlu dihairankan, Allah itu Maha berkuasa, zat yang sempurna penuh keagungan. Lupakah duhai hati, Allah telah berjanji dalam kalamNya Izzati..

”Adakah kamu mengaku beriman, sedangkan kamu belum diuji?”

Maka, hadapilah ujian dengan sejuta kesabaran. Percayalah, yakinlah sepenuh hatimu..

Hanyasanya Allah bersama-sama mereka yang sabar.

Aduhai hati yang penuh kesedihan.. Mengapa perlu ditangisi sebuah perpisahan? Bukankah semua kita akan pergi.. pulang kepangkuan Tuhan. Dialah yang menjadikan.. Dan padaNya jua segalanya akan dikembalikan. Lupakah engkau, hidup di dunia ini sekadar persinggahan. Yang kekal hanyalah amalan sebagai teman. Itulah teman dalam perjalanan menuju sebuah keabadian..

Maka, janganlah engkau lalaikan hatimu dengan kehidupan yang sementara ini. Janganlah engkau tangisi lagi sebuah perpisahan sementara.. akan tetapi, hadapkanlah wajahmu sentiasa kepada Allah.. Penuhkanlah jiwa dan hatimu dengan dzikrullah memuji kebesaranNya. Juga sibukkanlah hari-harimu dengan amalan makruf nahi mungkar, mengikut sunnah kekasihNya.

Yakinlah, barangsiapa yang dihatinya ada Allah, dan mengutamakan Allah atas segala apa yang dilakukannya, Allah akan seiringkan pekerjaannya dengan pertolonganNya. Bekerja keraslah engkau untuk hari esokmu yang abadi. Berbekallah dengan amalan yang menguntungkanmu di sana nanti. Ingatlah, sebaik-baik bekalan adalah taqwa.

Duhai diri yang lemah.. Kembalikanlah hatimu kepada Rab.. Kerana Dia lah pemilik segala yang engkau miliki.. Segalanya hanya pinjaman untuk menguji. Kentalkanlah semangat juangmu. Jadilah seperti syaidatina Aisyah, puterinya Syaidina Abu Bakar..

Walau fitnah mencalar maruah, Dia tetap Aisyah! Walau rumahtangganya di landa badai anggkara si munafiq durjana, tetap teguh pendiriannya, menggunung tawakalnya. Pada Allah dia berdoa, mengharap furqan agar tenggelam segala nista. Insafilah duhai diri yang lemah, Allah sengaja menguji sekeping hati yang kecil.. sebagai tukaran untuk mendapatkan habuan yang lebih besar kelak.

Maka bersyukurlah.. bersyukurlah.. bersyukurlah kerana dirimu insan terpilih....
 

Sunday, August 28, 2011

~Mencari Kerdipan yang Hilang...

Kadangkala,
Kita terpaku mencari jawapan kehidupan,
Berlari dan terus berlari,
Mengharapkan penghujung yang sejati,
Tercungap-cungap mencari nafas ketenangan hakiki,
Lantas kita berhenti sebentar,
Refleksi diri yang kian gentar,
Bertanya semula kepada kalbu yg keletihan,
Apa yang engkau lari-larikan?
Apabila hakikatnya,
Kebahagiaanmu tersuluh di depan mata,
Kemuliaanmu terpancar hatta di celah-celah kota,
Walau dunia penuh pancaroba,
Dirimu sentiasa menanti masa,
Mencari, dan terus mencari.

...Kerdipan Yang Hilang...
Kilauan kerdipan mereka laksana bulan yang hadir pada malam hari, menerangi seluruh pelosok dunia dengan kecantikan budi pekerti dan akhlak yang terpuji.
Ketika Allah menciptakan mereka, kesemuanya harus menjadi seorang yang istimewa. Dikurniakan dengan bahu yang cukup kuat untuk menampung fatamorgana dunia. Namun, harus cukup lembut untuk memberikan ketenangan dan kebahagiaan.
Meskipun dilitupi dengan 'selendang islami' dan hijab kemuliaan, mereka dikurniakan Allah dengan kekuatan dalaman yang abadi, cukup kuat untuk melahirkan anak dan menahan mehnah tribulasi yang seringkali datang daripada anak itu..
Allah menguji mereka dengan kekerasan dan kesengsaraan agar dirinya tetap tabah ketika orang lain sudah menyerah. Mengasuh keluarganya meskipun ditemani dengan penat lelah yang tidak pernah henti walau sesaat.
Allah memberikan kefahaman dan sifat penyayang yang tinggi kepada mereka, demi menahan kerenah anak-anak yang sering menyakitkan hati mereka, tetapi tetap jua anak itu disayangi tanpa kurang walaupun sedikit.
Allah memberinya kekuatan untuk 'mendukung' suaminya yang dilanda kegagalan dan kesusahan. Melengkapi 'tulang rusuk' kebahagiaan yang selama ini dicari.
Dikurniakan air mata untuk dititiskan. Namun, ramai yang tidak tahu, titisan-titisan itulah yang telah banyak melahirkan 'lautan ibrah' yang luas terbentang buat tatapan sanubari.
Itulah mereka. Insan-insan yang bergelar WANITA.
Kalianlah pencorak masa hadapan dunia. Tidak ada insan selain Nabi Adam yang melihat dunia ini tanpa bermula daripada rahim seorang insan yang bergelar wanita. Keluarkanlah nama-nama yang tersemat di lubuk pemikiran kita, hebat ataupun tidak insan tersebut. Mereka semua melalui alam rahim yang sama seperti kita semua, diasuh dan dijaga dengan penuh kasih sayang. Daripada saat kita merangkak, berjalan sehinggalah mampu berlari, insan-insan ini tidak pernah meninggalkan kita.
Maka, adakah sesiapa yang berani merendah-rendahkan kaum ini ?
Ya. Kita yang bergelar ar-rijal (lelaki).
Mengakulah betapa kesengsaraan akan menimpa dirimu tanpa belaian kasih dan sayang daripada kaum yang bergelar wanita ini.
Mengakulah betapa hati-hatimu sentiasa teruji hatta hanya dengan mendengar bingkisan suara mereka yang penuh kelunakan.
Sedangkan Adam sunyi tanpa Hawa. Apakah agaknya yang tiada di Syurga ?
Masihkah kita tidak ingin mengaku kehebatan mereka yang bisa melentur peribadimu secara total?
Tetapi,
Mengapa golongan ini juga yang engkau permain-mainkan maruahnya?
Kenapa mereka juga yang engkau siul-siulkan di tengah jalan itu?
Kenapa srikandi-srikandi ini juga yang engkau rosakkan akhlak dan peribadinya?
Diri kita fitrahnya dilahirkan sebagai seorang pemimpin. Untuk membimbing kaum hawa ini satu obligasi, bukan ilusi.
Dirimu adalah Qowwamun (Pelindung) kepada wanita, bukannya perosak.
Mengajak mereka berdua-duaan di tempat gelap itu bukan 'melindungi' namanya.
Bicara manis dan romantis di telefon dan SMS itu pula hanyalah 'insuran' palsumu. Sedangkan sijil nikahmu dengannya pun belum ada, betapa beraninya dirimu mengatakan akan mendaki Gunung Everest dan merentas lautan api demi meraih cintanya.
Cinta? Itu sesuatu yang agak panjang untuk kita bincangkan.
Apa yang penting, cinta kepada insan itu terletak pada pembentukan Baitul Muslim mu. Bukan pada hubungan-hubungan palsu yang kita 'jaga' dan sanjungi itu.
Cinta itu juga Islam. Maka, keadaannya perlulah Islam, pengakhirannya perlulah Islam, bukannya disaluti dengan nafsu yang bergejolak.
Maka, bertanyalah semula kepada diri kita. Adakah kita sedang 'memimpin' cinta kita ke arah syurga? Ataupun ke arah neraka?
Duhai dikau yang bergelar srikandi.
Dirimu pada dasarnya dicipta dengan penuh kemuliaan. Dikurniakan dengan sesuatu yang mustahil dimiliki oleh ayah, adik, dan abangmu.
Ketahuilah betapa suara lunakmu bisa menggegarkan dunia.
Sedarilah betapa pandangan dan peribadimu melahirkan ibrah yang menggunung.
Dirimu begitu berharga sebagai penenang hati-hati yang sedang gundah gulana.
Dirimu lebih kuat daripada yang apa engkau sangkakan.
Sedangkan sebuah kerajaan pun boleh jatuh disebabkan seorang wanita. Apatah lagi untuk menghancur-luluhkan kehidupan seorang lelaki yang berpenyakit hatinya.
Engkau ibarat mawar yang berduri. Sentiasa berdiri menahan bayu cabaran yang mendatang. Hatta kumbang datang untuk membinasa, duri dahanmu tetap bersedia, tetap tidak pernah hilang harga diri, meski dipujuk dan dirayu oleh nafsu sendiri. Melainkan syariat yang memberi.
'Facebook' dan blog itu bukan tempat manifestasi kecantikan paras rupamu.
Nilai maruahmu begitu tinggi untuk ditayangkan kepada yang bukan hak.
Jangan! Jangan digadaikan untuk sesuatu yang tidak setaraf dengan nilai harga dirimu ya ukhti.
Kecantikanmu bukan pada paras rupa, tetapi lebih kepada akhlak dan peribadimu yang suci itu.
Seorang wanita solehah dalam kalangan kalian itu hakikatnya lebih baik daripada 70 orang lelaki soleh. Tidak hairanlah sekiranya dirimu mendapat pengiktirafan 'sebaik-baik perhiasan dunia, adalah wanita yang solehah'.
Wanita solehah itu,
Teguh menjunjung syariat Allah. Dia tidak akan pernah membiarkan dirinya menjadi busur panahan syaitan. Diperalatkan untuk mengumpan kaum Adam yang kadangkala terlalu gopoh dengan hawa nafsu masing-masing.
Wanita solehah itu,
Sentiasa tenang jiwa sanubarinya. Mengingati Allah di saat suka dan duka.
Ya. Hatta diuji dengan ujian yang boleh sahaja membuatkan insan lain tersungkur jatuh. Tetapi bukan engkau, kerana kelebihanmu terletak pada ketenangan dan kesucian hatimu di sisi Allah SWT.
Betapa tingginya darjatmu di sisi Islam.
Betapa mulianya kedudukanmu di sisi para suami yang mencintaimu kelak.
Maka, mengapa perlu berfikir dua kali apabila Allah arahkan untuk menutup aurat ya ukhti?
Mengapa perlu ditayangkan perhiasan-perhiasan yang tidak berhak dipandang oleh lelaki-lelaki ajnabi itu ya ukhti?
Bukannya kalian tidak tahu..hati ar-rijal (lelaki) itu mudah sahaja bergetar melihat diri kalian semua. Mencari kesempatan yang kini ada daripada kalian yang memberinya dengan mudah. Kemudian terlahirlah pelbagai kemaksiatan yang bertunjangkan kepada satu masalah keimanan kita kepada Allah SWT.
Pandangan Allah ataupun pandangan manusia. yang mana satukah agaknya prioriti utama yang kita jadikan sebagai pemandu tindak laku kita di dunia ini?
Wahai srikandi-srikandi syurga.
Bukanlah artis-artis dunia yang menjadi idola kalian.
Bukan juga yang terlari daripada landasan matlamat yang hakiki.
Kalian menjadi sayap kiri kepada kebangkitan Islam di dunia ini, bersama-sama berjuang dengan para Muslimin.
Sejarah mencatatkan banyak jejak-jejak srikandi yang begitu tabah lagi halus peribadinya. Mengapa bukan mereka yang menjadi contoh ikutan utama?
Sesetengah orang pernah berkata, sejarah itu ibarat pentas bermain wayang. Dibaca dan kemudian diulang, dan diulang, dan diulang. Berapa kali pengulangankah agaknya yang diperlukan oleh diri kita untuk menyedari kehebatan para mujahidah Islam dahulu kala?
Kesetiaan pengorbanan Siti Khadijah Binti Khuwailid hampir lupus dek zaman 'futuristik' muda-mudi.
Kebijaksanaan Aisyah Binti Abu Bakar seolah-olah sesuatu yang benar-benar luar biasa bagi kita semua.
Ketabahan Fatimah, Mashitah dan Siti Hajar pula nampaknya hanya dipelajari dengan titisan air mata. Kesayuan dan kesedihan yang selalu tidak mempunyai penyusulan.
Ya ukhti.
Sumayyah mengukir sejarah kerana kemantapan akidahnya kepada Allah SWT, meskipun pada saat itu Islam belum lagi melakar dua pertiga dunia. Tetapi kisah dirinya benar-benar membuatkan kita sebak.
Kita pula? Apa sejarah yang ingin kita lukiskan dalam kehidupan kita ini?
Kita tahu dan kita percaya. Tidak mustahil untuk kita membentuk semula peribadi insan-insan yang luar biasa ini. Cuma persoalannya, siapa?
Tidak kira yang lelaki mahupun wanita. Kita wajar mencontohi kehebatan mujahidah-mujahidah islam ini dengan mengambil ibrah daripada lembaran perjuangan mereka yang tidak pernah gentar menghadapi musuh, kerana diri merekalah contoh wanita solehah yang terbaik buat kita semua.
Merekalah...
Kerdipan yang hilang itu.
Ya Rijal dan Nissa.
Janganlah kita biarkan kerdipan itu pergi begitu sahaja. Carilah kilauannya yang terang itu. Kesemuanya sudah tersuluh, cuma menunggu masa untuk kita memakai 'kaca mata' iman dan Islam kita.
Marilah kita sama-sama menukar paradigma kita. Meletakkan sesuatu itu di landasan yang hakiki, lantas mampu membuat keputusan dengan minda yang mustanir (cemerlang). Insya Allah, suatu masa nanti, pasti kerdipan yang hilang itu akan kembali menerangi kegelapan dunia.
" Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya, bahawa Ia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikan-Nya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan". (Ar-Rum 30:21)

(peringatan diri yang hina ini dan juga sahabat2 yang kukasihi semua)
wallahua'lam..

Thursday, July 28, 2011

~Jangan pernah lelah wahai Mujahid ku!

 
Izinkan Aku Bercerita Tentangmu…!!!

Jangan pernah lelah wahai Mujahidku..
Kerana ku kan senantiasa di belakangmu untuk mendukungmu..
Jangan kau tengok ke belakang, lihatlah kedepan..
Di depan ada musuhmu, musuh Tuhan kita..
Jadikan mereka terhina dengan kekuatanmu..
 
 
Janganlah ragu untuk melepaskan peluru dari selongsong senapangmu..
Bidiklah tepat dijantungnya..
Jadikan ia mati sia-sia, tak memberi kemenangan bagi sekutunya..
Maju terus! jangan pernah menyerah!
Lepaskanlah duniamu..
Kerana sungguh! dunia ini hina..
Sesungguhnya di sisi Tuhan kitalah sebenar-benarnya kebahagiaan..
Ingatlah isteri-isteri akhiratmu menunggumu dengan penuh cinta..
Mereka senantiasa mendendangkan syair kerinduan..
Hanya untukmu, hanya untukmu....
wahai Mujahid ku....
 

Friday, July 22, 2011

ya ALLAH,tabahkan qolbi !


    Kesedihan ialah penyakit jiwa yang boleh mengundang bahaya. Namun rasa kesedihan, kebimbangan, susah hati banyak melanda manusia pada waktu ini. Sedihnya, kebanyakan manusia menemui jalan buntu untuk mengubati penyakit ini sehingga ada yang berputus asa.

Bagaimana mengatasi kesedihan?

Hmm..bukankah orang yang beriman itu ada Al-Quran untuk diambil panduan, ada doa yang boleh dipohon, ada solat yang dapat menghampirkan diri kepada ALLAH yang sekaligus dapat menghilangkan kesedihan itu...? selain itu amalan bersedekah, perbuatan baik, dan amalan lain boleh memberi manfaat daripada terus bersedih..Nah! sebab itulah kita jangan bersedih..ia tidak mendatangkan apa manfaat pada kita selain membuat kita terus rasa ‘down’...dari kita bersedih tu, baik kita lakukan perkara yang boleh beri manfaat atau kebaikan pada orang lain..

Adakah jalan bahagia?

Jawapannya, ada! Kita ada banyak pilihan untuk mendapatkan kebahagiaan yang diidam..antaranya:

 Beriman
 Sebuah hadith riwayat Muslim, daripada Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.aa berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda yang bermaksud:

“ Memang sangat menakjubkan keadaan orang Mukmin kerana segala urusannya mendatangkan kebaikan baginya dan ini tidak akan berlaku kecuali bagi orang yang beriman. Apabila memperolehi kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu kebaikan baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan dia bersabar, maka yang demikian itu juga kebaikan baginya.”

 Lupakan masa lalu
 Semua yang telah berlaku disebabkan perhatian yang terpaku kepada peristiwa silam, merupakan kebodohan dan kegilaan.. Bayangkan, kita hanya berdiri didepan pintu yang sama sedang pintu lain sebenarnya telah terbuka.. Bukankah ia suatu perkara yang sia-sia? Kenapa perlu kita membuang masa kita menunggu pintu yang telah terkunci itu dibuka sedang banyak pintu lain telah sedia terbuka? Renungkan..

Jangan sibukkan diri dengan masa depan
 Masa depan masih berada dialam ghaib.. Jangan terlalu risau memikirkannya, ia akan datang jua dengan sendirinya.. ALLAH  berfirman dalam surah Yunus ayat 62 yang bermaksud:

“Ketahuilah! Sesungguhnya wali-wali ALLAH tidak ada kebimbangan (daripada sesuatu yang tidak baik) terhadap mereka dan mereka tidak pula berdukacita.”

“Tiada Kebimbangan” adalah tiada kebimbangan tentang perkara-perkara yang belum berlaku. Manakala “Tidak Berdukacita”  pula adalah tidak  susah hati pada perkara-perkara yang sudah berlalu..

Berzikir
 Berzikirlah kepada ALLAH dengan sebanyak-banyaknya, nescaya anda akan memperoleh ketenangan dan kedamaian  sebagaimana dalam firman ALLAH dalam surah al-Ra’d ayat 28:

“ Orang yang tenteram hati mereka dengan zikrullah. Ketahuilah, dengan zikrullah itu, tenang tenteramlah hati manusia.”

Sedar
 Perlu sedar bahawa tiap sesuatu yang berlaku adalah ketentuan qada’ dan qadar dari ALLAH.. Dan setiap yang terjadi itu berhikmah, andai saja kita memikirkannya..

Jangan mengharap
 Apabila anda memberikan sesuatu, jangan anda terlalu mengharapkan ucapan terima kasih dari orang lain.. Bimbang andai anda tidak mendapat ucapan terima kasih, anda akan berasa sedih sekaligus membuatkan anda rasa putus asa atau hilang semangat untuk terus melakukan sesuatu kebaikan kerana anda merasakan seolah-olah ia tidak dihargai..

Berfikir
 Andai saja kita tahu bahawa setiap yang berlaku itu hakikatnya adalah baik untuk kita.. Bukankah DIA tidak akan sesekali menzalimi hamba-NYA? Hanya DIA Mengetahui apa yang baik dan apa yang tidak untuk hamba-NYA..

Ingat
 Terkadang kita rasa kesusahan atau kesedihan yang melanda kita itu akan berpanjangan dan ia tidak mendatangkan kebaikan melainkan hanya mendatangkan perkara-perkara buruk yang lain.. Kita akan rasa kesulitan ini tiada penghujungnya, tiada penamatnya, dan tiada penyelesaiannya.. Tapi bukankah telah dijanjikan DIA bahawa disebalik setiap kesusahan itu ada kemudahan? Andai saja kita ingat..

Jangan Putus asa
 Kita begitu mudah berputus asa bila ditimpa sesuatu masalah.. Kita mudah mengeluh dan tidak cuba sehabis baik untuk menyelesaikan sesuatu permasalahan.. Andai kita mencari jalan penyelesaian pun, jika ia gagal, kita akan tetap berputus asa.. Kebanyakan kita manusia, sering berputus asa waima ia adalah perkara remeh-temeh.. Inilah apa yang dikatakan sebagai satu pembaziran masa.. Bukankah lebih baik masa yang di ‘luangkan’ untuk bersedih itu, kita gunakan untuk mengulangkaji pelajaran, berbakti pada ibubapa, membantu sahabat-sahabat yang memerlukan, atau mendekatkan diri dengan ALLAH? Fikir dan renungkan..

Ada Jalan Keluar!
Jalan keluar dari setiap kesusahan dan kesedihan itu ada.. Tapi ia bersyarat! Jika kita mahukannya, kita hendaklah bertqwa kepada ALLAH! Sebagaimana firman ALLAH dalam surah al- Talaq ayat 2 dan 3 yang bermaksud:

“ Dan sesiapa yang bertaqwa kepada ALLAH nescaya ALLAH akan mengadakan baginya jalan keluar (daripada segala perkara yang menyusahkannya), serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas dihatinya.”

Jom doa agar dihilangkan segala kesedihan kita!

“Ya ALLAH, aku berlindung kepada-Mu daripada sifat lemah dan malas. Aku berlidung kepada-Mu daripada pengecut dan bakhil. Aku berlindung kepada-Mu daripada bebanan hutang dan penindasan seseorang.”

Kisah Abu Umamah yang diceritakan dalam hadis yang  diriwayatkan oleh Abu Daud bisa dijadikan sebagai satu iktibar. Dimana Abu Umamah pada suatu hari kelihatan begitu sedih. Lalu ditegur oleh Rasulullah SAW apa punca kesedihannya. Abu Umamah kemudian menjawab, “Aku sedih kerana aku banyak hutang wahai Rasulullah! ” Kemudian Rasulullah bertanya, “Mahukan engkau aku ajarkan kata-kata yang jika engkau mengucapkannya nescaya ALLAH menghilangkan segala kesedihananmu dan menyelesaikan hutangmu?”. Abu Umamah menjawab, “Sudah tentu Ya Rasulullah.” Lalu Baginda SAW terus mengajarkan doa diatas dan berpesan agar ia dibacakan pada waktu pagi dan petang.

Abu Umamah berkata, “ Lalu doa itu aku amalkan dan ALLAH pun menghilangkan kesedihanku juga melangsaikan hutangku.”

Wallahua’lam...